Perihal Lagu Pemakaman
Catatan Kecil Dayat Piliang #2
Seseorang bertanya padaku perihal lagu pemakaman apa yang akan diputar ketika aku mati.
Jujur, awalnya aku tidak mengerti dengan pertanyaan ini, karena dalam agama yang kuanut dan adat yang kupegang tak ada budaya seperti memainkan atau memutar lagu di pemakaman. Namun, agar bisa menjawabnya mari kita berandai-andai jika seluruh manusia memiliki budaya yang sama; dalam hal ini ialah lagu pemakaman.
Di pemakaman, aku akan meminta untuk memutar satu lagu yang sudah kudengar sejak dahulu dan tak pernah bosan kuputar di saat-saat senggangku. Sebuah lagu dari Gillbert O’ Sullivan yang berjudul ‘Alone Again, Naturally’ kelak akan berkumandang di telingaku (entah orang mati bisa mendengarnya atau tidak) juga orang-orang yang turut menyertai kepergianku ke alam baka (entah ada atau tidak).
Kalau ditanya mengapa aku memilih lagu itu, sederhana saja; liriknya mengandung makna yang amat dalam. Liriknya bercerita tentang seseorang yang sedang jatuh terpuruk ke titik terendah dalam hidup. Namun sayang, di saat-saat terpuruk, orang-orang malah meninggalkannya seorang diri. Dalam liriknya juga tertulis jelas jika keadaan buruk itu tak kunjung membaik, ia akan mendatangi menara terdekat, menaikinya, kemudian melemparkan diri dari atas sana sebagai bentuk pelipur lara. Juga ditujukan agar orang-orang bisa mengerti tentang betapa beratnya ketika sedang terpuruk namun orang-orang malah menjauh pergi dan mau tak mau harus menghadapi keadaan sulit itu seorang diri.
Aku yakin, banyak dari kita pernah mengalami kisah serupa. Tak hanya keadaan buruk, ditinggalkan ketika masa-masa sulit barangkali pernah menjadi bagian dari pengalaman atau bahkan saat ini sedang kita rasakan. Memang menyebalkan rasanya ketika kita butuh dibersamai namun nyatanya orang-orang mendadak menghilang dan memilih abai. Apalagi ketika kita selalu ada untuk orang-orang itu dan tak mendapat balasan serupa. Memang, melakukan kebaikan harusnya tak pamrih. Tapi agak kurang adil rasanya menjadi seseorang yang selalu ada namun kini diabaikan ketika kita sedang butuh-butuhnya uluran tangan dari mereka.
Memang tak ada yang bisa kita harapkan selain diri kita sendiri, tak ada yang bisa membersamai kita melalui sulit yang sedang kita derita selain diri sendiri, tak ada yang bisa menjadi pelipur menghadirkan semangat untuk tetap bertahan dan berjuang selain diri kita sendiri. Jadi, biasakanlah. Kuat-kuatlah.
Seperti judul lagu di atas; Alone Again, Naturally.
Comments
Post a Comment
Silakan tinggalkan komentar sebagai bentuk apresiasi kamu terhadap karya tulisku.