Bingung dengan Istilah Nonbiner
Jurnal Dayat Piliang, 21 Agustus 2022.
Perkembangan zaman semakin membingungkan saja rasanya. Entah karena terlalu apatis atau terlalu banyak hal-hal baru, membuat tak semua hal bisa kuikuti. Mungkin dua hal itu menjadi sebab ada banyak hal yang tak kuketahui di dunia ini.
Aku akan memulainya dengan salah satu topik yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Tentang seorang mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Makassar yang dikeluarkan dari ruangan ketika pengenalan kampus sedang berlangsung. Cuplikan video tersebut viral di Twitter hari jum’at lalu.
Mahasiswa baru itu dikeluarkan karena mengenalkan identitas gendernya sebagai nonbiner; tidak laki-laki juga tidak perempuan. Agar lebih objektif, aku akan menjelaskan kronologis singkatnya yang aku dapatkan dari salah satu media.
Di tengah-tengah acara pengenalan kampus, seorang mahasiswa merasa kegerahan di ruangan sehingga ia mengipas-ngipaskan tangannya. Mahasiswa itu lalu dipanggil ke depan dan ditanya perihal status jenis kelaminnya. Mahasiswa berinisial NA itu menjawab kalau status gendernya ialah non biner, bukan laki-laki dan juga bukan perempuan. Dua dosen yang heran kembali meminta penegasan, “di KTP mu apa statusnya?” lalu NA menjawab “laki-laki, Pak”. Tapi mahasiswa itu tetap bergeming bahwa identitas gendernya netral ketika disuruh memilih laki-laki atau perempuan. Dan sesaat kemudian ia dikeluarkan dari ruangan.
Melihat keriuhan yang terjadi, aku bingung mencerna perihal identitas gender ini. Sejauh yang kutahu, gender itu hanya ada laki-laki dan perempuan. Namun ketika aku membaca komentar, ada yang menjelaskan kalau gender dan jenis kelamin itu adalah dua hal yang berbeda. Kalau jenis kelamin itu merujuk pada kondisi biologis sedangkan gender itu merujuk pada seseorang memandang dirinya sebagai apa. Sedangkan ketika aku mencari pengertian gender dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, gender merujuk pada jenis kelamin.
Jujur, ini sulit kucerna dengan akal sehatku. Membahas orientasi seksual saja aku belum terlalu khatam karena masih banyak hal-hal yang tak kumengerti lebih dalam, kini ada hal baru yang masuk dalam kepalaku tentang identitas gender. Dhuaaar!! Pecah kepalaku.
Kalau menanggapi peristiwa yang dialami oleh mahasiswa baru itu, jujur aku tidak setuju dengan perlakuan dua dosen tersebut yang mempermalukannya di depan umum. Kan ada cara-cara yang lebih elok tanpa harus ditampilkan dihadapan mahasiswa/i lain. Tapi apa yang dilakukan mahasiswa tersebut juga tak begitu elok. Harusnya ia bisa memosisikan diri dengan menjelaskan dirinya sesuai dengan apa yang tertulis di KTP dan kartu mahasiswanya. Sehingga suasana pengenalan kampus itu bisa berjalan baik dan tak menciptakan keriuhan yang tak hanya di dalam ruangan saja, namun menyebar ke sosial media.
Ya meskipun dengan adanya kasus di atas membuat aku mencari tahu istilah identitas gender yang merujuk apa seseorang memandang dirinya sebagai apa(?).
Nah balik lagi kita ke topik identitas gender. Setelah aku membaca sedikit penjelasannya, bukannya jadi lebih paham, malah semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam kepalaku. Contohnya seperti, jika seseorang mengaku dirinya nonbiner, ia akan berpasangan dengan siapa? Apakah ia bebas hendak perpasangan dengan laki-laki atau perempuan? Lantas apakah kaum nonbiner ini memiliki orientasi seksual yang sama dengan biseksual yang punya ketertarikan dengan laki-laki dan perempuan? Sedangkan kaum nonbiner ini mengaku kalau dirinya bukanlah laki-laki bukan juga perempuan. Dan juga penjelasan biseksual dalam KBBI juga bertolak belakang dengan nonbiner. Kalau nonbiner itu tidak laki-laki dan juga tidak perempuan, biseksual itu mempunyai sifat laki-laki dan perempuan. Nah, jadi bingung lagi, kan?
Bukankah dunia ini makin memusingkan?
Jujur, sebenarnya aku tak ada masalah dengan hal-hal itu. Mau apapun orientasi seksualnya, mau apapun jenis manusianya, selama tidak menghadirkan kerugian bagi orang dan lingkungan sih terserah-terserah saja. Tapi tidak bisakah kita menjalani hidup yang wajar-wajar saja? Jika kondisi biologisnya laki-laki, ya sebut saja laki-laki. Jika perempuan, ya sebut saja perempuan. Kenapa harus menciptakan kategori baru yang hanya menambah kepusingan dalam kepala orang?
Entalah, ya. Mestinya ini tak harus menjadi pikiran yang dipusingkan. Tapi mau gimana lagi, mengikuti topik itu membuat banyak tanya dalam kepalaku. Apakah di masa mendatang, ketika mereka ingin kesetaraan gender akan ada toilet umum khusus nonbiner atau bagaimana? Ini murni pertanyaan, ya. Bukan sarkastik dan semacamnya.
Au ah, pusing.
Comments
Post a Comment
Silakan tinggalkan komentar sebagai bentuk apresiasi kamu terhadap karya tulisku.