Jurnal 1: Perkenalan

Aku menulis jurnal ini pada pukul lima pagi dalam keadaan belum tidur sama sekali. Iya, aku tahu kebiasaan buruk ini sangat tidak baik jika kulakukan terus menerus. Namun bagaimanapun, aku sedang berusaha untuk memperbaikinya. Perlahan. Kan perubahan tidak bisa dilakukan secara instan.

Sebelum jurnal ini kumulai dengan kisah-kisah yang kualami selama hidupku; dari lahir hingga menjelang akhir, mari kita awali dengan sebuah alasan mengapa jurnal ini kutulis juga dengan perkenalan yang baik agar kamu yang ingin tahu bisa lebih mengenalku.


Pertama, alasannya sederhana saja. Aku adalah manusia yang mudah lupa, maka sebelum semuanya pudar dari ingatan, aku hendak menuliskannya agar bisa dibaca oleh siapapun. Dan aku juga baru sadar kalau ada banyak hal-hal menarik dalam hidupku yang sebelumnya aku anggap biasa-biasa saja. Barangkali jika aku menuliskannya bisa jadi manfaat untuk yang membacanya.


Dan mari kita lanjut dengan sebuah perkenalan baik.


LAHIR


Senin, 12 Agustus 1996, di sebuah klinik kecil di Kota Medan, terdengar suara tangis dari bayi yang baru saja keluar dari rahim ibunya. Entah apa makna dari tangis itu, namun orang-orang di sekitar ikut menangis haru dan bahagia menyambut kehadiran bayi laki-laki yang awalnya diberi nama Ahmad Dayat. Namun setelah diskusi dengan paman yang kusebut uncu, akhirnya semua sepakat bayi itu dinamakan Rahmad Hidayat ditambah dengan Piliang, turunan suku dari Ibu. Iya, bayi laki-laki yang lahir dengan sehat itu adalah aku, kan ini jurnalku, bukan jurnal orang lain, hehehe.


Seperti yang kubilang, tak ada yang tahu apa makna sebenarnya dari tangis yang kulakukan pada hari itu; bahkan aku sekalipun. Jikapun aku tahu, pasti dibuat lupa.


Ada dua kemungkinan: pertama, aku menangis karena bahagia setelah sembilan bulan berada dalam ruang gelap akhirnya bisa keluar melihat dunia yang sepertinya amat sangat indah. Kedua, aku menangis karena mengetahui betapa kejam dan kerasnya dunia ini berjalan; bahkan orang-orang bisa saling membunuh satu sama lain untuk mewujudkan keinginannya sendiri. “daripada harus hidup di dunia yang seperti itu, lebih baik aku hidup dalam rahim hangat seorang ibu.” barangkali begitu ujarku dan kemudian aku menangis sejadi-jadinya. 


Meski kemungkinan yang kedua itu mustahil menjadi alasanku menangis pada hari itu, namun jika kita melihat dunia setelah masuk fase dewasa, rasanya itu bukan hal yang tidak mungkin.


KELUARGA


Aku berasal dari keluarga sederhana, bahkan terbilang ke bawah. Tidak ada satupun orang penting dalam keluarga ini. Tak seperti Rafathar yang memiliki ayah dan ibu seorang artis besar dengan harta berlimpah, bukan juga seperti Jan Ethes atau Sedah Mirah yang memiliki ayah seorang Wali Kota dan kakek seorang Presiden Republik Indonesia. Keluargaku biasa-biasa saja seperti keluarga pada umumnya yang ada di Indonesia. Ayah seorang pengusaha konveksi yang sempat berjaya dan ibu sebagai ibu rumah tangga.


Meski lahir dari rahim seorang ibu, namun aku tidak dibesarkan olehnya. Kedua orang tuaku beserta dua anaknya memutuskan pulang ke kampung setelah usaha konveksi ayah di Medan gulung tikar akibat krisis moneter yang melanda Indonesia pada awal Juli 1997. Iya, orang tuaku membawa anak-anaknya kecuali aku. Belum genap setahun, aku dititipkan pada bibi (kakak dari ibuku). Ketika usia pra remaja, aku sempat bertanya alasannya, “kau menangis terus menerus seolah tak ingin meninggalkan Medan” ucap ibu pada saat itu. Namun, setelah aku menginjak usia remaja akhir, aku mulai berpikir kalau ada yang aneh dari alasan itu. Sungguh tak logis meninggalkan seorang anak yang belum setahun hidup tidak dengan keluarga kandung hanya karena anak itu menangis terus menerus. Tapi kuputuskan untuk mengabaikannya saja karena tak mau menghadirkan keributan yang cukup sering terjadi ketika usiaku menginjak remaja.


Aku dibesarkan oleh bibi di rumah nenek. Di rumah, ada beberapa keluarga yang juga tinggal dalam atap yang sama. Ini umum terjadi pada masa-masa itu. Tidak seperti masa sekarang, setiap orang yang hendak menikah harus memiliki rumah masing-masing yang menjadikan harga-harga rumah menjadi mahal bukan main; membuat pengusaha properti jaya sebab strategi iming-iming rumah adalah investasi yang harganya setiap tahun kian meningkat. Belum lagi jika lokasi rumahnya dibangun fasilitas publik, peningkatan harganya bisa luar biasa tajam.


Aku lupa siapa saja yang ada pada waktu itu, yang kuingat aku di dalamnya ada nenek, bibi, paman, dan tiga kakak sepupu perempuan anak dari bibi. Saat itu, rumah tidak pernah sepi. Ada banyak hal yang terjadi di dalamnya. Canda tawa, pertengkaran kecil, dan hal lain yang lazim terjadi di sebuah rumah dari keluarga sederhana. 


***


Tidak banyak hal yang kuingat ketika aku kecil, namun aku merasa bahagia menjadi bagian dari keluarga meski hidup kami sederhana. Oh iya, ada satu hal yang mengingatkanku bahwa pada masa-masa itu aku hidup bahagia. Film Mohabbatein yang diperankan oleh Amitabh Bachchan dan Shahrukh Khan selalu menempel dalam ingatanku. Keluarga kami senang sekali dengan yang berbau-bau India karena pada masa-masa itu industri Bollywood memang sedang naik-naiknya. Kami tak pernah melewatkan satupun tayangan drama India. Dan yang paling kuingat adalah film Mohabbatein yang kini sudah kuputar lebih dari dua puluh kali. Selain ceritanya yang bagus, menonton film itu membuatku tetap ingat pada masa-masa indah yang pernah kurasakan dalam keluargaku yang setelahnya terlalu banyak luka dan pertengkaran yang terjadi di dalamnya.


***


Baiklah, perkenalannya cukup sampai di sini saja. Seiring berjalannya jurnal ini, tentu banyak hal yang bisa kalian ketahui juga yang bisa kalian jadikan pelajaran untuk menjalani hari-hari.


Banyak hal yang akan kuceritakan di sini. Mulai dari keluarga yang retak dan perlahan menjadi asing satu sama lain, fase aku hidup di perantauan, fase ketika aku berada di titik terendah dalam hidup yang membuat aku berpikir untuk mengakhiri hidup, fase aku mengalami krisis identitas ketika sudah menjadi penulis, cerita perihal karir, cinta, dan masih banyak hal-hal lainnya.


Semoga perkenalan ini bisa menjadi awal yang baik untuk kita lanjut ke jurnal-jurnal yang akan kutuliskan hingga akhir.


Catatan Penulis: Terima kasih sudah membaca setiap tulisanku. Sebagai orang yang kini hidup menjadi penulis penuh waktu, aku ingin bisa hidup dari karya-karya tulisku. Jika kamu suka, boleh berikan dukungan dengan traktir aku secangkir kopi. Silakan klik banner di bawah ini.

Comments